Selasa, 25 Mei 2010
cerpen asik
Karya : Dinar syarita Bakti
“Ayah selalu saja begitu!! Lebih mementingkan Nenek daripada aku. Ayah udah berubah, bukan lagi Ayah yang seperti dulu. Ayah udah nggak sayang sama aku lagi!!!”
Dengan kesal Vio menonaktifkan hp miliknya. Ayah pasti akan menelepon balik, begitu pikirya. Karena setiap pertengkaran lewat telepon ini terjadi, Ayah akan melakukan hal yang sama. Menelepon balik. Padahal Ayah pasti tahu dan hafal benar kalau Vio akan menonaktifkan hp miliknya. Selalu begitu. Selalu. Selalu. Dan selalu.
“EGOIS!!! AYAH EGOIS!!!”
Air mata Vio mengalir di pipinya. Deras sekali. Lebih deras dari air hujan yang jatuh dari langit. Hatinya bergemuruh hebat, lebih hebat dari guntur yang baru saja terdengar.
“Hujan deras dan Ayah nggak mau menjemputku di sekolah. Padahal Ayah tau kalau aku paling takut petir. Hiks. Hiks. JAHAT!!!” Teriak Vio. Suaranya kalah dengan suara derasnya hujan.
“Ayo aku antar pulang!”
Suara seorang pemuda mengagetkannya. Suaranya begitu lembut, bahkan melembutkan suara guntur di langit sana. Sebuah jas hujan warna hitam yang dibawa sang pemuda sudah siap melindunginya.
“Aku naik sepeda, Don.” Jawab Vio dengan suara serak.
“Iya, aku tau kok. Biar aku yang bonceng kamu. OK?”
“Tapi…..”
“Udahlah, nggak usah kebanyakan mikir. Kita hujan-hujanan. Asyik kok!!” Dengan bersemangat Doni mengambil sepeda milik Vio. Tapi Vio hanya diam ketika sepeda itu sudah siap di depan matanya. Keraguan menghiasi wajah ayunya.
“Kamu nggak bakal sakit. Hujannya deres banget. Cuma gerimis yang bikin orang sakit. Lagipula kamu pake jas hujan.”
Vio tetap diam Beberapa detik kemudian suara guntur terdengar. Dan mata Vio terpejam. Dengan agak ketakutan ia membuka matanya lagi. Tentu saja setelah suara guntur itu hilang.
“Kamu takut suara guntur?”
Vio mengangguk. Ia benar-benar ketakutan.
“Tenang aja, aku bakal jagain kamu. Aku nggak akan membiarkan kamu ketakutan. Kalau perlu aku akan ngebut supaya kamu cepet sampai rumah.”
Vio masih saja ragu.
“Itu bukan gombalan, Vi. Itu sebuah janji. Ayo!” Doni mengulurkan tanganya. Awalnya Vio mau menyambutnya. Tapi ia urungkan karena lagi-lagi suara guntur terdengar. Lebih keras dari yang tadi.
“Kamu harus kalahkan rasa takutmu sendiri, Vio. Kamu nggak sendirian. Aku nemenin kamu. Percaya sama diri kamu sendiri, kalau setelah ini kamu berhasil mengalahkan guntur itu, maka selamanya kamu akan menang. Selamanya kamu nggak akan takut sama guntur lagi!!!”
Satu detik. Dua detik. Tiga detik Empat detik Lima detik.
Disambutnya uluran tangan Doni. Dan mereka menerjang hujan. Mengalahkan suara guntur. Mengalahkan cahaya kilat. Yang terpenting bagi seorang Vio.
Mengalahkan ketakutannya sendiri.
“Vio, kamu mau kemana?” Nenek menghentikan kegiatan menyulamnya sejenak ketika melihat cucunya menggunakan gaun merah dengan potongan diatas lutut.
“Ke ultah temen.” Jawab Vio sekenanya.
“Ke pesta dengan pakaian minim seperti itu?” Nenek memandang Vio dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu mengelengkan kepalanya. “Masuk kamarmu dan ganti pakaian dengan yang lebih sopan.”
“Aku udah telat, Nek.”
“Nenek nggak mau tahu!! Kamu harus ganti pakaianmu atau nggak Nenek izinkan untuk pergi.” Ancam Nenek dengan suara yang tegas.
“Nek, temen-temenku juga pake baju kayak gini. Bahkan ada yang lebih seksi dari ini. Kayak begini sih nggak seberapa, Nek!!” Vio mulai ngotot.
“Mereka bukan cucu Nenek. Dan Nenek nggak mau punya cucu yang mengumbar tubuhnya secara berlebihan. Perempuan itu harus punya harga diri.” Nenek juga nggak mau kalah.
“Oh, jadi Nenek pikir aku nggak punya harga diri. Begitu??”
“Nenek bicara soal attitude berpakaian Vio, dan kamu sudah melanggarnya dengan memakai gaun seronok itu.”
“Bilang aja aku udah mirip perempuan yang nggak punya harga diri, Nek!!! Iya kan??? Memang, Nenek selalu BENAR. Dan aku selalu saja salah.”
“Kamu itu memang nggak pernah mau mengerti, VIO!!! Kamu selalu ingin dimengerti dan dimengerti, tapi kamu nggak mau mengerti dan mendengarkan orang lain.”
“CUKUP!! Vio masuk kamar kamu!!! Ayah mencabut izin kamu buat hadir ke pesta ulang tahun Doni.” Akhirnya Ayah yang mendengar pertengkaran antara cucu dan nenek itu mengambil alih suasana yang mulai tak terkendali.
“AYAH!!!” Vio menolak keras keputusan yang dikeluarkan oleh Ayahnya. “Apa maksud Ayah??”
“Masuk kamar dan renungi apa yang sudah kamu ucapkan tadi!!!”
“Ta…ta..pi, Doni???”
“Nggak ada! Nggak ada pesta ultah Doni!!!!”
“ARGHH!!!”
Vio berlari menuju kamarnya. Make up-nya luntur oleh air mata. Dibantingnya pintu kamar dengan keras. Hingga seluruh penghuni rumah itu kaget bukan main.
“VIO!!!” Bentak Ayah.
“Sudah, Yah. Biarkan dia sendiri dulu.” Bunda menenangkan Ayah yang hampir meledak karena sikap Vio yang seperti anak kecil.
“Dia perlu diajari sopan santun!!! Andai umurku masih ada untuk 10 tahun kedepan, akan ku bawa dia pulang ke Tanah Jawa dan kubuat dia seperti seorang Putri Jawa sesungguhnya.” Nenek berjalan perlahan dengan tongkatnya dan berlalu meninggalkan Ayah dan Bunda yang tertunduk sedih.
“Nenek udah kelewatan. Sangat kelewatan!! Ayah malah ikut-ikutan, bukannya membelaku!!”
Dengan tenaga yang tersisa Vio mengemasi pakaian dan beberapa barangnya ke dalam tas ransel. Dilihatnya foto keluarga yang baru beberapa bulan lalu diambil, ketika Nenek baru datang dari Jawa dan memutuskan menetap di Jakarta, menuruti permintaan Ayah, putra sulungnya.
Vio tersenyum sangat manis. Dia adalah putri satu-satunya yang dimiliki Ayah dan Bunda. Juga cucu kesayangan Nenek. Kini senyum itu hilang dari bibirnya. Lenyap disapu angin dan dibawa waktu.
Semenjak Nenek berusaha mengatur hidupnya. Hidup yang menurut Vio sudah sempurna. Ketika Nenek meminta Ayah berhenti mengantarkan Vio yang sudah kelas XI SMA ke sekolah dan menyuruhnya naik sepeda, karena jarak rumah ke sekolah cukup dekat. Dan Ayah menyetujuinya.
Ketika Nenek memaksanya masuk organisasi sekolah dan mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS mengingat pengalaman organisasi itu sangat penting saat terjun ke masyarakat secara langsung. Dan Ayah menyetujuinya.
Ketika Nenek membelikannya 3 pasang seragam baru komplit dengan dasi dan sabuk yang menurut Nenek lebih pantas digunakan oleh seorang siswa daripada baju seragam yang dimiliki Vio. Karena menurut Nenek baju seragam Vio sudah kekecilan. Bahkan Nenek membelikannya sepasang sepatu pantople yang sangat manis. Sayangnya menurut Vio sepatu itu norak. Karena lagi-lagi Ayah menyetujuinya, Vio dipaksa harus memakai semua itu.
Ketika dengan pedenya Nenek membuatkan surprise nasi tumpeng di ultah Vio yang ke 16 dan membawanya ke sekolah. Saat itu pelajaran matematika Pak Gino, guru yang dikenal paling killer di sekolah. Yang ternyata adalah mantan pacar Nenek kala SMA dulu. Maka terjadilah acara reuni mendadak dan percakapan panjang dengan bahasa aneh yang katanya sih bahasa Jawa. Kejadian ini membuat Vio mendapat julukan sebagai ‘Cucu Pak Gino.
Dan masih banyak hal-hal lain yang dirubah oleh Nenek. Terutama Ayah. Vio tak kenal Ayahnya yang sekarang. Ayah lebih mendengarkan kata-kata Nenek dibandingkan mendengarkan isi hatinya. Ayah mulai menyalahi semua yang dilakukan Vio, jika itu salah menurut Nenek.
PRANGG!!!
Dibantingnya foto itu. Membuat frame kacanya pecah berantakan di lantai kamar Vio.
Vio turun ke lantai bawah dan langsung keluar dari rumah. Sebuah taksi sudah siap menunggunya didepan rumah. Ia akan menginap di rumah Shania, sahabat karibnya. Salah satu orang yang tak berubah di hidupnya.
Tok. Tok. Tok.
“Vio, bangun sayang sudah siang. Katanya mau jogging sama Ayah?”
Tak ada jawaban.
“Vio, sayang, bangun dong!! Nanti kita kesiangan lho!”
Tak ada jawaban.
Cklek.
“Vio?” Ayah bingung mendapati kamar Vio berantakan. Beliau juga tidak menemukan putri semata wayangnya.
“Aduhhh.” Sebuah pecahan kaca melukai kaki Ayah. Pecahan kaca frame foto keluarga yang berserakan di lantai.
“VIO!!!!” Barulah Ayah sadar kalau putri kesayangannya kabur dari rumah.
Nenek melihat Ayah begitu kalap menuruni tangga. Lalu tergesa-gesa mengambil kunci mobil.
“Ada apa, Hans??”
“Vio, Ma. Vio.”
“Ada apa dengan cucuku?” Ekspresi bertanya Nenek datar saja.
“Vio kabur dari rumah!!!!”
“HAH!!! Ap..ap..apa???” Tiba-tiba Nenek kesulitan bernafas. Aliran darahnya terasa deras mengalir membuat kepalanya pusing bukan main. Detik berikutnya Nenek jatuh pingsan.
“MAMA!!!!!”
“Please, San, jangan kasih tau Ayah kalau gue disini!!!” Vio memelas pada sahabatnya. Karena malam tadi Vio belum sempat bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ia sudah terlalu lelah untuk bercerita.
“Yang lo lakuin ini nggak baik, Vi. Lo lari dari masalah, harusnya lo hadapi masalah itu. Dengan cara kayak begini lo cuma akan membuat panjang daftar masalah. Bikin semua orang rumah khawatir.” Ucap Shania seraya menyerahkan satu pack tissue baru pada Vio.
“Ini udah kelewatan, Shan!!! Gue merasa tertekan. Semua yang gue lakuin nggak ada bener-benernya dimata Nenek. Akhirnya Ayah pun ikut-ikutan menghakimi gue. Eh, Bunda bukannya ngebelain gue, malah ikutan juga. Cuma bahasanya aja yang dialusin.”
Shania menarik napas dalam.
“Vi, sebagai sahabat yang baik, gue mau lo tau satu hal yang lo nggak sadari. Karena lo terlalu melihat semua ini dari sisi jeleknya. Lo percaya kan sama gue?”
Vio mengangguk. “Lo sahabat gue dari kecil. Gue yakin lo bakal ngasih yang terbaik buat gue.” Shania tersenyum.
“Berdiri, Vi! Terus lo liat diri lo di cermin lemari gue!!” Pinta Shania.
Vio nggak ngerti apa yang dimaksud sahabatnya ini. Wajah Vio kan lagi kucel, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Pokoknya awut-awutanlah!! Kok disuruh ngaca??
“Lo yang dulu dan sekarang jauh berbeda, Vi. Lihat cara berpakaian lo! Sopan, cantik dan chic. Lo nggak ngumbar tubuh lo. Itu artinya lo menghormati diri lo sendiri.”
Vio menatap dirinya seksama di cermin. Ya, ia menemukan perbedaan itu. Ia sendiri kaget. Kenapa cara berpakaiannya seperti ini? Yang ia tahu dengan cara berpakaiannya seperti ini, sudah nggak ada lagi cowok iseng yang ngegodain dia di jalan.
“Lihat cara lo berdiri. Menurut gue anggun. Badan lo nggak bongkok. Tegap dan anggun, Vi. Jujur saja, pas gue ngikutin cara lo berdiri yang kayak begini, malah bikin badan gue pegel.”
Ya, Shania memang benar. Vio merasa anggun dengan cara berdirinya seperti ini.
“Dan satu hal yang lebih penting dari segalanya. Sekarang lo udah jadi orang yang care sama orang lain. Lo mau berbagi. See, sekarang lo udah jadi Wakil Ketua OSIS. Awalnya gue juga kaget sama keputusan lo buat masuk OSIS bahkan sampai nyalonin diri sendiri buat jadi Ketua OSIS, walau pun karena terpaksa. Lo tau kesimpulannya apa, Vi?”
Vio menatap mata Shania tajam. Ada sejuta arti disana.
“Vio yang gue kenal sekarang, jauh lebih baik dari Vio yang dulu!!!”
Ces.
Ada setetes air yang turun di hati Vio yang gersang. Gersang karena kekesalan dan emosi yang tak terkendali. Kini semua itu seolah lenyap. Hati yang gersang berubah menjadi hamparan rumput hijau yang luas. Menyejukkan.
“Dan tanpa lo sadari, ini semua karena ulah Nenek lo yang setiap tuntutannya malah melekat dalam diri lo. Bahkan menghasilkan The New Vio. Vio yang gue rasa justru lebih memahami, mengerti dan menghargai akan arti hidup ini dibandingkan dengan Vio yang dulu.”
Hati Vio berdesir mendengar semua ucapan Shania. Perlahan Vio mendengar sayup-sayup hatinya berbisik, bahwa semua itu benar adanya.
“Benarkah?” Tanya Vio dengan mata berkaca-kaca.
Shania mengangguk.
“Iya, benar.” Ucap Doni dari ambang pintu.
“Doni??”
“Sorry, Vi, gue yang ngasih tau Doni kalau lo ada disini.”
“Don, maaf soal semalam. Aku….”
“Nggak apa-apa kok. Aku ngerti.” Doni tersenyum manis sekali. “Kamu tau nggak?”
“Soal apa?” Tanya Vio.
“Semua yang dikatakan Shania benar adanya.”
Vio memandang Shania sejenak, lalu memeluknya erat. Tangisnya pecah. “Makasih banyak, Shan. You’re my best friend.”
“Sama-sama, Vi.”
Kringg… Kringg…
Shania menerima telepon yang masuk dalam hp-nya. Ternyata dari Bu Lia, Bundanya Vio. Shania langsung menyerahkan hp-nya pada Vio.
“Bunda.” Sapa Vio dengan suara yang parau.
“Nak, pulanglah!! Nenekmu masuk rumah sakit.”
“APA!!!” Vio kaget bukan main. “Iya, Bun. Aku segera kesana.”
Klik.
Telepon ditutup dan Vio mulai terlihat sangat cemas.
“Anterin gue Shan, please!!!”
“Kemana?”
“Rumah sakit. Nenek masuk rumah sakit.”
“Hah!! Ayo! Ayo! Bentar, gue ambil kunci motor dulu.”
“Bunda!! Ayah!!!” Vio berlari lalu memeluk Ayah dan Bunda. “Maafn Vio. Hiks. Hiks.”
“Ssst, jangan nangis lagi, Vi. Lebih baik kita sekarang berdoa semoga nenek dapat melewati masa kritisnya.” Ucap Bunda seraya mengelus rambut putri semata wayangnya.
“Masa kritis?”
“Jika 30 menit lagi Nenek nggak siuman juga, maka beliau akan pergi untuk selama-lamanya.” Ucap Ayah.
Vio menatap Nenek dari luar ruang ICU. Ada banyak selang yang melekat di tubuh Nenek. Detak jantung beliau begitu lemah. Tarikan napasnya terlihat begitu berat.
“Ya Tuhan, ku mohon, berikan kesembuhan pada Nenekku. Aku sudah terlalu banyak berdosa padanya. Aku ingin meminta maaf padanya, Ya Tuhan. Berikanlah keajaibanMu padanya. Aku berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Doa Vio dalam hati.
Ayah menghampiri Vio yang berdiri dengan pandangan sangat bersalah ke ruang ICU. Menatap Nenek yang terbaring lemah tak berdaya.
“Ini salah Vio, Yah. Maafkan Vio ya, Yah.”
“Nggak Vio, ini memang takdir Tuhan. Vio nggak boleh menyalahkan diri Vio begitu.” Ayah merangkul bahu Vio.
“Vio menyesal, Yah. Hiks. Hiks.”
“Ayah mau menceritakan sesuatu padamu, Vi. Tentang 3 orang wanita yang menjadi pelita hidup Ayah. Ada Nenek, ada Bunda, dan ada kamu. Putri Ayah yang cantik. Jika diibaratkan bagai sebuah tubuh, maka Nenek adalah tulang Ayah, tulang yang menyangga tubuh Ayah. Bunda adalah darah yang mengalir di tubuh Ayah. Warna merahnya membuat hidup Ayah lebih berarti, tulang rusuk Ayah yang hilang. Dan kamu.” Ayah menunjuk hidung Vio.
“Aku apa, Yah? Aku pasti toxin yang meracuni tubuh Ayah.”
“Bukan sayang. Kamu adalah jantung Ayah. Jantung hati Ayah. Tanpa kamu, tubuh Ayah nggak bisa berbuat apa-apa sekalipun ada tulang dan darahnya. Kamulah yang membuat Ayah merasa hidup. Kamu adalah anugerah terindah dari Tuhan.”
“Vio sayang, Ayah.” Vio memeluk erat Ayah.
“Ayah juga sayang Vio.”
Setahun kemudian.
Berulang kali Vio kembali menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Sudah cantikah? Atau terlalu seksi?
“Vio lama banget sih, Bun.” Berulang kali Ayah melirik ke jam dinding besar yang ada di salah satu dinding ruang tamu.
“Sabar, Yah. Namanya juga perempuan.”
“Kamu deg-degan nggak, Don?”
“Eh, hm.. Deg-degan, Om.” Doni nggak bisa menutupi kegugupannya. Berulang kali Doni merapikan dasinya. Padahal sudah rapi.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit.
“Nah, itu dia anak Bunda.”
Vio menuruni satu persatu anak tangga. Anggun dan sangat mempesona. Senyumnya manis. Rambut hitam panjangnya terurai indah. Ia laksana seorang putri dari kerajaan di dalam dongeng.
“Cantik.” Kata itu terlantur dari bibir Ayah dan Doni bersamaan.
Bunda tersenyum menyambut Vio. “Kamu cantik sekali sayang.”
“Makasih, Ma. Ini kan berkat Nenek.” Vio memeluk Nenek yang ada disebelahnya.
“Ini baru cucuku.”
“Nah, Doni. Om titip Vio ya.”
“Iya, Om. Percaya sama saya. Kami berangkat ya, Om.”
“Ya, hati-hati.” Raut wajah Ayah berubah drastis. Entah kenapa ada rasa sedih yang merasuk dalam hati Ayah. Inikah yang akan dirasakannya kelak ketika Vio akan menikah dan dibawa suaminya.
“Kenapa, Yah? Ini cuma Prom Night.” Goda Bunda. Ayah hanya tersenyum.
Didalam mobil, Doni menyerahkan corsage yang telah ia siapkan untuk Vio. Dan Vio juga memberikan bunga mawar merah kecil untuk dikenakan di jas Doni sebagai bros.
“Corsage ini untuk Putri Vio yang sangat cantik malam ini.”
“Oh, jadi yang kemarin-kemarin nggak cantik, ya??” Canda Vio.
“Dimataku, kamu selalu terlihat cantik kok.”
“Gombal banget, sih!! Berangkat yuk! Nanti kita telat.”
Doni mengangguk. Baru saja mobil akan distarter tiba-tiba dengan tergesa-gesa Nenek keluar dari rumah dan menghampiri mobil Doni.
“Ada apa, Nek? Jangan lari-lari begitu! Nanti jantung Nenek kenapa-kenapa.” Ujar Vio yang khawatir dengan Neneknya.
“Nenek lupa bilang sesuatu.”
“Apa, Nek?” Doni nampak penasaran.
“Jangan pulang lebih dari jam 9 malam.”
“Nenek??!!!!” Vio langsung lemas. Semangatnya langsung hilang.
“Maksud Nenek, jangan pulang lebih dari jam 9 malam, atau pangeranmu akan berubah jadi kadal buduk yang jelek Hehehehe.” Nenek mencubit pipi Vio gemas.
“Ih, Nenek apaan, sih!!!”
TAMAT
cerpen asik
Karya: Dinar Syarita Bakti
“Ini?”
“Bukan!”
“Yang ini?”
“Bukan!!”
“Nah, pasti yang ini?”
“Bukan!! Bukan yang itu!!”
“Terus yang mana dong! Gue jadi pusing, nih.”
“Baru segitu aja lo udah pusing, apa lagi gue.”
Weny terus saja mengaduk-aduk lemarinya. Sedangkan Frina sudah menyerah dan malah tidur-tiduran di kasur Weny.
“Seberapa berharga sih Wen partitur yang lagi lo cari?” Tanya Frina dengan wajah yang tanpa dosa. Kalau misalnya partitur lagu itu nggak berharga, ngapain Weny minta Frina malam ini menginap di rumahnya.
“Menurut lo, kalau partitur itu nggak berharga, ngapain gue nyuruh lo malam ini nginep di rumah gue? Terus ngapain kita ngaduk-ngaduk kamar gue??” Mata Weny melotot.
“Oh, berarti partitur itu penting banget, ya?”
Weny menepuk jidatnya sendiri. Lalu mengabaikan Frina yang sekarang udah memeluk salah satu guling Weny dengan mata yang merem melek menahan kantuk dan akhirnya bener-bener merem.
“Aduh, dimana sih partiturnya!!!!”
“STOP! STOP!!”
Weny menghentikan permainan biolanya. John, pembimbing Weny menggelengkan kepala. Tanda bahwa latihan kali ini tidak berjalan lancar. John mengambil biolanya dan memainkannya. Suara yang keluar mendayu dan menusuk ke hati. Melodi yang mengalun menggambarkan kebingungan dan kehampaan.
“Kamu harus bermain dengan hati, Wen.” Ucap John. “Permainan kamu tadi terdengar tak bernyawa. Hanya melodi-melodi sumbang.”
Weny tertunduk. Ia melihat wajahnya di cermin. Seorang perempuan yang menggenggam sebuah biola. Dan biola itu terlihat hampa ditangannya. Apakah ini bukan bakatnya?
“Weny, seminggu lagi resital. Waktu latihanmu hanya empat hari lagi. Aku nggak mau kamu latihan kayak orang gila sehari sebelum pentas.”
“Ya, aku tau, John.”
“Lagu apa yang mau kamu mainkan?”
“Ada sebuah partitur lagu yang dibuat bundaku sebelum beliau meninggal.”
“Kedengaran menarik. Coba kau mainkan!” Pinta John.
“Tapi, aku nggak tau dimana Bunda menyimpan partitur lagu itu.”
“Astaga!!” Wajah John terlihat agak shock. Lalu lelaki yang sudah berumur itu terlihat mengatur napasnya lagi. Mencoba tetap tenang. “Baiklah, apa kau pernah mendengar lagu yang ada di partitur itu dimainkan?”
“Sering, ketika aku masih kecil.”
“Percayakan pada ingatanmu. Dan mainkan biolamu. Coba kau ingat-ingat setiap melodinya. Biarkan jari jemarimu menari.”
“Tapi aku tidak sehebat itu, John.”
“Percaya padaku, kau pasti bisa. I trust you. So, you have to try.” John tersenyum. Ia adalah pemain biola yang tak perlu ditanyakan lagi kemampuannya. Bagaimana John bisa begitu yakin dengan dirinya, sedangkan Weny sendiri tidak begitu yakin dengan dirinya sendiri.
“Mainkan lagu itu dengan cinta.” Ucap John.
Weny mengangguk. Jam latihan telah selesai. Semua murid diperbolehkan pulang. Weny menelusuri lorong sekolahnya. Setiap mading kelas memasang poster konser tahunan yang selalu diadakan di sekolah musik ini. Nama Weny tertulis sebagai salah satu penampil. Ia akan bermain solo. Tanpa pengiring. Hanya biolanya yang terdengar mengalun.
Weny tak habis pikir, apa yang dipikirkan John saat mengajukan dirinya. Padahal masih banyak anak lain yang permainan biolanya jauh lebih baik dari Weny.
“Wen!!” Suara cempreng Frina memecahkan lamunan Weny. “Gimana latihannya?”
“Jelek.” Jawab Weny singkat.
“Owhh.” Wajah Frina menampakkan kekecewaan. “Tetep SEMANGAT!!!” Teriak Frina. Dengan otomatis semua orang melihat kearah mereka.
“Stt, Frina!!”
“Hehehe. Wen-wen mau nganterin Frina nggak?”
“Mau kemana?”
“Mau fitting baju.”
“Tapi, makan dulu ya. Laper.”
“Ok, deh. Yuk!!!” Frina menarik tangan Weny ke kantin. Semangkok bakso dan jus alpukat sudah cukup menggiurkan untuk mengisis perut yang keroncongan.
“Gimana, Wen?”
“Lucu.”
Frina terlihat puas dengan bajunya. Rok rample hitam berpita putih dan kemeja putih. Frina masuk ke dalam tim paduan suara yang akan menyanyikan lagu ost. Final Fantasy VII, Eyes On Me. Orkestra yang akan mengiringanya adalah orkestra milik Adi M.S.
“Lo udah nyari baju belum, Wen?”
“Belum.” Jawab Weny datar.
“Ya ampun, lo kan mau tampil solo. Harus dipersiapin dari sekarang dong!!!”
“Gue bingung mau pake apa. Lagu yang mau gue mainin aja, gue nggak tau. Partiturnya belum ketemu juga, Frin.”
“Jadi, lo bener-bener mau mainin lagu di partitur itu?”
“Ya iyalah. Dulu Bunda selalu berharap gue bisa jadi pemain biola. Biasanya gue pentas biola keroyokan, sekarang tunggal. So, it’s time. Ini saatnya buat mainin lagu itu.”
“Emangnya itu lagu apaan sih?”
“Gue nggak tau judul lagunya apa, yang gue tau lagu itu selalu Bunda mainin buat gue.”
“Malam ini gue nginep di rumah lo lagi, ya?”
“Hah!! Nginep lagi?”
“Iya!! Kita cari lagi partitur lagu itu. Gimana?”
“Ok! Thanks ya, Frin. Lo emang best friend gue.” Weny memeluk Frina. Dan malam itu juga mereka mengaduk dan mengacak-acak kamar juga beberapa lemari. Melihat kembali file-file lama yang terlantar di sudut gudang penuh debu.
“Wen!!” Frina menggoncang-goncangkan tubuh Weny. “Weny!!!”
“Apaan sih?”
“Ini siapa, Wen?” Frina menyerahkan sebuah foto yang sudah kusam. Tanpa bingkai. Hanya selembar foto tua. Warna kertasnya pun sudah kekuningan.
Dalam foto itu, ada potret seorang gadis muda yang sedang bermain biola. Rambut hitam panjangnya tergerai. Tubuhnya tinggi semampai. Memakai gaun hitam. Jari jemarinya lentik. Wajahnya meneduhkan dihiasi seutas senyuman. Anggun dan mengagumkan.
“Ini….. Bunda.”
“Amazing.” Kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir Frina. Dilihatnya foto itu lekat-lekat. “Bola matanya Wen.”
“Kenapa?”
“Itu bola mata lo, Wen. Lihat, deh!!!” Frina menunjuk bola mata gadis yang ada di foto itu. “Ini tatapan yang selalu gue liat waktu lo bermain biola.”
Weny memperhatikan bola mata Bundanya. Tiba-tiba ada kerinduan yang perlahan menelusup ke hatinya. Kerinduan akan keberadaan seorang Bunda disisinya. Ia rindu bola mata itu. Meneduhkan dan selalu memberikan kekuatan pada seorang Weny.
Weny hanya mengenal Bunda sampai umur 6 tahun. Bunda meninggal karena kanker rahim yang dideritanya. Tak ada air mata yang ia keluarkan saat Bunda meninggal. Karena ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa Bunda ditutupi olah kain putih dan ditidurkan di tanah. Lalu orang-orang menimbunnya dengan tanah lagi. Hingga ia tidak bisa melihat Bunda. Nama Bunda pun ditulis di sebuah papan dan ditancapkan digundukan tanah yang sudah menimbun tubuh Bunda. Bahkan Ayah meninggalkan Bunda sendirian dan mengajak Weny pulang ke rumah. Padahal Ayah tidak pernah meninggalkan Bunda sendirian.
“Wen??”
“Eh.” Weny tersadar dari lamunannya.
“Lo nangis??” Frina menghapus air mata Weny.
“Eh, enggak kok.”
“Yang sabar ya, Wen.” Frina mengelus punggung sahabatnya dengan lembut.
Weny mengangguk dan meletakkan foto Bunda di kantung baju kodoknya. Ia berniat untuk membingkai dan meletakan foto itu di kamarnya.
“Frin, dah dulu yuk nyarinya. Udah jam setengah sepuluh, nih. Bentar lagi Ayah pulang. Bisa-bisa Ayah marah kalau tau malam-malam gini kita ada di loteng dan ngaduk-ngaduk kardus.”
“Ya udah. Kita turun.”
Tepat sekali saat mereka turun dari loteng, ayah Weny pulang. Ia agak bingung melihat di rambut putrinya ada sarang laba-laba.
“Kamu abis ngapain, Sayang?”
“Hm, abis ngeberesin kamar, Yah.”
“Jam segini ngeberesin kamar?”
“He-eh. Abis udah lama nggak ngeberesin kamar. Aji mumpung ada Frina yang ngebantuin.”
“Iya, Om.”
“Oh, dirambut kamu ada sarang laba-laba, tuh! Bersiin dulu, gih!”
“Eh, iya.”
Weny dan Frina pun ngibrit ke kamar mandi untuk membersihkan sarang laba-laba di rambutnya. Jangan-jangan laba-labanya juga ikut nimbrung lagi di rambut mereka.
“Frina!!! ADA LABA-LABA DI RAMBUT LO!!”
“AHHH!!!”
Tuh kan!
“Yah.”
“Apa?” Ayah mengalihkan perhatiannya dari tv yang menayangkan pertandingan sepak bola ke Weny yang tiba-tiba muncul.
“Weny boleh nanya sesuatu nggak?”
“Mau nanya apa? Kamu jam segini belum tidur? Besok telat, lho!”
“Nggak kok, Yah.” Weny menunjukkan sesuatu kepada Ayahnya. “Ini Bunda ya, Yah?”
Ayah mengambil foto yang ditunjukan Weny. Mengamatinya sesaat. “Iya, ini Bundamu. Cantik, ya?”
“Aku mau jadi seperti Bunda, Yah. Bisa nggak, ya?”
“Bisa, dong.”
“Yah, Sabtu ini resital pertamaku. Ayah ingat nggak melodi yang suka Bunda mainkan padaku waktu aku kecil dulu?”
“He-eh. Ayah ingat.”
“Aku mau memainkan melodi itu nanti. Tapi, sampai sekarang aku belum tahu partiturnya kayak apa.”
Ayah menarik napas panjang. Ada beban berat yang terpancar di wajah beliau. Sepertinya ada yang Ayah sembunyikan dari Weny. Dan Weny merasakan hal itu.
“Kemari, Nak. Ikut Ayah.” Ayah menggandeng tangan Weny.
“Ini lemari Bunda kan, Yah?” Weny kaget bukan main ketika Ayahnya membuka lemari yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka itu. Lemari ini masih tetap pada posisinya. Disudut kanan kamar Ayah dan Bunda.
“Mungkin, sudah saatnya.” Ucap Ayah.
Lemari itu terbuka. Ada bertumpuk-tumpuk baju Bunda yang tersimpan rapi. Semerbak harum parfum Bunda menyentuh hidung Weny. Kerinduannya datang lagi.
“Ini, bukalah.” Pinta Ayah.
Weny membuka sebuah tempat biola yang diserahkan Ayah padanya.
“Biola milik, Bunda.” Ucapnya.
“Ya.”
Weny tidak menyentuh biola itu. Ia hanya memandanginya. Melihat biola itu saja sudah cukup membuat banyak kenangan tentang Bunda berkelebat riang di kepalanya. Ia merasa Bunda ada dihadapannya dan memainkan melodi indah itu untuknya. Mengalun perlahan dan menyejukkan hati.
“Mainkan partitur ini dengan biola Bunda.” Ayah menyerahkan tiga buah kertas partitur tua. Tangan Weny bergetar menyentuh partitur-partitur itu. “Partitur ini hasil karya Bunda. Ini asli tulisan tangannya.”
Weny hanya diam. Berulang-ulang ia memandang bergantian antara partitur dan biola Bunda. Sekalipun sudah disimpan cukup lama, biola Bunda masih terlihat bagus. Pasti Ayah merawatnya dengan baik.
“Mainkan, Nak.”
Dengan perlahan, Weny mulai memainkan biola itu. Melodi-melodi indah itu kembali terdengar. Mengalir bagaikan air. Indah dan menggugah jiwa.
“Biola.” Ucap Bunda.
“Bi..oo..la..” Weny kecil mengikuti ucapan Bunda.
Bunda tesenyum. “Weny suka biola?”
“He-eh. Weny suka biola.”
“Kalau sudah besar nanti, Weny mau jadi pemain biola?”
“Pemain biola?” Tanya Weny kecil bingung.
“Seperti Bunda.”
“MAU!! Weny mau seperti Bunda.”
Weny kecil memeluk Bunda. Hangat dan nyaman. “Weny sayang Bunda.” Diciumnya kening Weny oleh Bunda. Seperti yang sering Bunda lakukan ketika ia beranjak tidur.
Nada-nada yang indah selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku, tak akan jadi deritanya
Tangan halus dan suci, telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup, rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, Bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu, ada didalam hatiku
(Bunda, Melly Goeslaw)
“Weny sayang Bunda.”
Weny memeluk biola Bunda. Sama eratnya ketika Weny memeluk Bunda dahulu. Begitu hangat dan begitu nyaman.
“Untuk Bunda.” Kata yang diucapkan Weny diakhir permainan solo biolanya.
Standing applause diberikan kepada gadis bergaun hitam dengan biola Bunda ditangannya. Melodi yang ia mainkan berhasil menyihir sekian banyak orang yang menyaksikannya. Lembut, mengalun indah, memberikan keteduhan, dan kerinduan akan sesuatu yang berharga.
“Dia anakkku.” Suara seseorang dari tribun penonton. Ia pun maju dengan sebuket mawar merah. Melangkah melewati para penonton dan naik keatas panggung.
“Untuk anakku tercinta, Weny.”
“Dan untuk Bunda tercinta. Dia akan selalu ada dihati kita.”
Kali ini ku sadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hati ku terdalam
Sungguh aku cinta padamu
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku, seumur hidupku
Seumur hidupku..
Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku
(Bukan Cinta Biasa, Afgan)
TAMAT
Minggu, 23 Mei 2010
Cerpen asik, Lihat! Aku Seorang Perempuan Palestina
Karya: Dinar Syarita Bakti
Ku telusuri jalan yang gersang ini. Selangkah demi selangkah diiringi dengan desir perih dalam hati. Tak ada daya dalam raga ini untuk melakukan sesuatu lebih dari apa yang sedang aku lakukan kini. Andaikan aku boleh berkhayal laksana pujangga yang punya dunianya sendiri, akan ku pinta padaNya untuk menghentikan waktu disini.
Hanya sebuah khayal. Suatu kenyataan yang membuatku tersiksa karena kenangan. Seuntai kenangan itu selalu terulang dan terekam erat di otakku. Menelusup ke jaringan-jaringan syaraf yang terangkai rapi di kepalaku. Menguasai alam bawah sadarku, hingga setiap malam aku harus terbangun dalam mimpi buruk.
Maha Besar Allah dengan segala kuasaNya. Sepanjang umur aku mengecap dunia fana ini, maka selama 22 tahun itulah semua kenangan ini menguasaiku. Menuntun kemana aku harus membawa raga ini. Membuka hatiku akan kekejaman zionisme pada zaman itu.
Dan lagi-lagi, aku harus menemui kenyataan, bahwa aku lahir pada masa itu. Masa yang membuat tanah kelahiranku, Palestina, menjadi sebuah medan peperangan tanpa akhir dari masa ke masa.
Itulah alasan terkuat kenapa aku kembali kesini. Sepahit apapun kenangan itu, aku harus dapat menerimanya. Dengan bola mataku akan kutatap lagi tanah kelahiranku.
“Ummi, ayo Ummi!! Kita harus mencari tempat perlindungan!!” Seorang bocah lelaki menuntun ibunya yang sudah kepayahan berjalan.
“Harun, Ummi sudah tidak kuat berjalan lagi. Kita istirahat saja dulu.” Ummi itu mengelus perutnya. Perlahan dengan rasa sayang dan cinta disetiap sentuhannya.
“Adik bayi dalam perut Ummi merasa kelelahan juga, ya?” Tanya bocah yang bernama Harun itu polos.
Ummi Aina hanya tersenyum. Terbayang betapa senangnya Harun saat tahu dia akan memiliki seorang saudara baru. Mahluk kecil yang akan tumbuh didepan matanya dan akan membuat hidup Harun lebih bermakna.
“Harun mencari air dulu ya, Ummi.” Ucap Harun tiba-tiba.
“Mau mencari kemana, Nak?”
“Itu Ummi.” Harun mengarahkan telunjuknya ke segerombolan pejuang Palestina. “Mereka pasti punya air untuk kita.”
“Baiklah, jangan terlalu lama ya, Nak.”
Harun mengangguk. Ia berlari kecil menghampiri segerombolan pemuda. Mereka semua membawa senjata. Ada serentetan peluru yang mereka jadikan sabuk di pinggang. Juga beberapa granat api.
“Assalamu’alaikum ya Akhi.”
“Wa’alaikumsalam. Ada apa Akhi Kecil?” Ucap salah seorang dari mereka.
“Saya dan Ummi kehausan, kami sudah berjalan selama satu setengah jam untuk mencari tempat perlindungan. Boleh kami minta air?”
“Dimana Abi-mu, Nak?” Tanya seorang bapak yang memakai sorban. Diwajahnya ada luka. Seperti goresan pisau. Nampaknya luka lama. Pasti karena suatu kejadian. Kejadian yang menjadi kenangan dan terukir di raga.
“Abi-ku berjihad. Dan syahid.” Jawab Harun mantap.
“ALLAHU AKBAR!!” Teriak bapak itu. “Semoga Allah menerima Abi-mu disisiNya, Anakku.”
“Mana Ummi-mu, Nak?” Seorang pemuda dengan peples (tempat air minum para tentara) di tangannya mendekati Harun.
“Beliau ada disana.”
“Ayo kita kesana. Akan aku bawakan minum untuk Ummi-mu. Ini, kau minum dulu!”
“Tidak. Aku tidak akan minum air ini sebelum Ummi meminumnya lebih dulu.”
Harun bersama dengan dua pejuang Palestina itu menghampiri Ummi Aina. Mereka kaget melihat Ummi Aina yang sedang mengandung.
“Ummi, berapa usia kandungan Ummi?”
“Sudah sembilan bulan.”
“Masya Allah. Semoga anak dalam kandungan Ummi mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT.”
“Amien ya Allah. Syukran Akhi atas airnya.”
“Afwan, Ummi. Sekarang Ummi mau kemana?”
“Entahlah, aku khawatir sebentar lagi waktunya bayi dalam kandunganku ini akan lahir.”
“Sekitar setengah jam lagi akan ada mobil patroli yang lewat, Ummi bisa ikut dalam mobil patroli itu. Mereka akan mengantarkan Ummi ke rumah sakit.”
“Alhamdulillah, Maha Besar Allah. Terima kasih, Akhi. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.” Ummi Aina menitikan air mata.
Bagi beliau, saat-saat ini merupakan saat yang berat. Bertahan hidup dalam keadaan seperti ini bukan hal yang mudah. Kini hanya Harun-lah yang Ummi Aina miliki. Keluarganya sudah berpulang ke Illahi saat rumah mereka dibom oleh para zionis Israel.
“Ummi, kalau adikku lelaki, akan aku beri nama Firdaus. Kalau adikku perempuan, akan aku beri nama Fatimah.” Sebuah senyuman menghias di wajah Harun.
“Subhnallah, nama yang indah sekali, Anakku.”
Senyum yang menggetarkan jiwa siapa saja yang menatapnya. Di tengah berkecamuknya perang ini, masih ada senyuman yang terselip disana. Mencoba menghibur mereka yang dirundung duka.
Meyakinkan hati ini, bahwa sesudah kesusahan itu ada kemudahan. Sesudah penderitaan pasti ada kebahagiaan. Dan Allah akan selalu bersama orang-orang yang bersabar.
“TENTARA ISRAEL MENYERANG!!! SIAGA! SIAGA!!!”
Sebuah mobil patroli berhenti tepat di depan pos jaga. Beberapa pemuda dengan senapan bergelantungan di tubuh mereka keluar dari dalam mobil. Mereka menatap Harun juga Ibunya dengan tatapan yang tak dapat dimengerti.
“Ummi, maaf.” Salah satu pemuda yang keluar dari dalam mobil itu menghampiri Ummi.
“Ada apa, Nak?”
“Kami hanya bisa membawa satu orang saja.”
“Kenapa? Bagaimana dengan anakku Harun?”
“Maaf Ummi. Kami hanya bisa membawa satu orang saja agar kami bisa lolos dari pemeriksaan di perbatasan nanti.”
“Aku tidak akan meninggalkan Harun. Lebih baik kalian tinggalkan saja kami.” Ummi Aina memeluk Harun erat.
Sebuah suara meriam terdengar. Tanda bahwa para zionis-zionis semakin mendekat. Disusul oleh jeritan-jeritan yang memilukan hati. Yang bisa menyelamatkan diri berlari sekencang-kencangnya. Yang terperangkap bukan berarti berputus asa.
“SYAHID!! SYAHID!! ALLAHU AKBARRRR!!!”
Ummi Aina semakin erat memeluk Harun. “Aku tidak akan meninggalkan anakku.”
“Ummi.” Dengan lembut Harun menenangkan ibunya. “Ummi harus ikut dengan paman ini. Agar adik bayi selamat. Harun nanti akan menyusul Ummi di rumah sakit. Ya, Ummi.”
“Harun, Ummi tidak akan meninggalkanmu, Nak.”
“Tidak, Ummi. Ummi tidak meninggalkan aku. Harun tetap ada disini, di hati Ummi. Jangan khawatir, Ummi. Aku bersama mereka. Orang-orang tangguh yang dimiliki Palestina.”
Ummi menatap anak semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak percaya Harun akan mengatakan hal itu. Sungguh sangat menenangkan hati.
“Ummi mencintaimu, Nak.”
“Harun juga mencintaimu, Ummi.” Dikecup kening Ummi Aina lembut.
“Ayo Ummi, kita harus cepat.” Pemuda itu membantu Ummi berjalan menuju mobil jeep mereka.
“Jaga dirimu baik-baik, Anakku!!”
“Iya, Ummi. Insya Allah.”
Jeep semakin melaju meninggalkan pos. Bayangan bocah kecil bernama Harun itu semakin tak terlihat. Tak ada kata yang dapat diucapkan Ummi Aina. Ia sudah kehilangan suaminya, haruskah kini ia kehilangan putranya?
Gencatan senjata bukan hal yang mungkin terjadi saat ini. Terlalu banyak letupan senjata api, terlalu banyak bom-bom yang sudah berbunyi nyaring menghiasi bumi, terlalu banyak nyawa-nyawa yang tak berdosa melayang begitu saja.
“UMMIIII!!!!!!” Teriaknya.
“HARUN!!”
Ummi Aina tersadar dari pingsannya. Sebuah mimpi buruk menyapa. Beliau memimpikan putranya, Harun yang tampan dan sholeh terkulai tak berdaya dengan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya.
“Ummi, Alhamdulillah Ummi sudah sadar. Ini anak Ummi, perempuan. Sangat cantik. Semoga menjadi anak yang sholehah.”
“Namanya Fatimah.” Ucap Ummi Aina diiringi senyuman.
Untuk pertama kalinya Ummi Aina menimang anak perempuannya itu. Bayi mungil tanpa dosa yang lahir ditengah kemelut Palestina. Tangisnya juga menghiasi langit-langi Palestina yang merah oleh api.
“Ummi Aina.” Sebuah suara menyapa Ummi Aina.
“Akhi…..”
Ummi Aina tidak tahu nama pemuda itu.. Tapi, kenangan itu amat jelas dibenak Ummi Aina. Pemuda yang memberinya air dan memberi tahu tentang mobil patroli.
“Namaku Harun, Ummi. Sama seperti nama anak Ummi.”
“Harun! Bagaimana dengan anakku, Harun?”
“Ini Ummi.” Harun menyerahkan segulung baju yang penuh dengan noda. Noda darah yang menghitam. Ummi Aina menerimanya dengan tangan bergetar.
“Ini baju anakku Harun?”
“Iya, Ummi. Dia syahid di jalan Allah.”
“Innanillahi wa innailaihi raji’un.” Didekapnya baju Harun. “Fatimah, ini baju kakakmu tercinta. Namanya Harun. Kakakmu syahid di jalan Allah, Fatimah. Padahal umurnya masih sangat muda.” Ummi memperlihatkan baju itu pada si kecil Fatimah. Seolah Fatimah yang baru lahir mengerti apa yang sedang terjadi.
“Ummi! Ummi! Ummi Aina!!!”
Perlahan mata Ummi Aina tertutup seiring dengan ucapan syahadat dari bibirnya. Beliau menyusul putranya Harun. Harun yang menjadi salah satu korban kekejaman zionis di Palestina. Beliau menyusul suami tercinta. Beliau menyusul keluarganya. Satu nyawa menambah panjang daftar nyawa tak berdosa yang melayang begitu saja dan akan tertulis dalam sejarah perang Palestina.
Sang Pemuda Harun pun menyatakan sanggup untuk bertanggung jawab atas Fatimah. “Anak ini harus hidup, akan aku rawat dia. Biarlah esok hari ia akan kembali dan menyerukan tentang tanah kelahirannya. Dia akan kembali padamu, Palestina. Dan hidup sebagai perempuan Palestina. ”
“Halo, Assalamu’alaikum, Paman.”
“Wa’alaikumsalam. Fatimah! Kau sudah sampai di Palestina, Nak?”
“Sudah, Paman. Aku melihatnya. Aku melihat tanah kelahiranku. Aku melihat semuanya.”
“Kamu ada dimana, Nak?”
“Disebuah tempat yang tenang, Paman. Tempat yang aku rasa sangat dekat dengan diriku.”
“Doakanlah Ummi-mi, Abi-mu dan saudara laki-lakimu.”
“Baik, Paman. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Ku layangkan mataku ke seluruh penjuru. Yang kulihat hanya nisan-nisan yang berjajar rapi. Kusentuh lebut sebuah nisan yang ada dihadapanku. Tertulis sebuah nama yang juga terukir di hatiku.
“Ummi, Abi, Kak Harun, aku pulang ke tanah kelahiranku. Palestina”
TAMAT
Cerpen asik
4 Months for 7 Years
Karya: Dinar Syarita Bakti
Dira melangkah pergi meninggalkan kawan-kawannya dibelakang. Ia memilih untuk sendiri. Menjauh dari keramaian dan hingar bingar pesta. Hatinya sedang tidak ingin berpesta. Ia ingin merenung. Memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Bukan bersenang-senang sambil berfoya-foya ria.
Dari kejauhan, musik masih terdengar sayup. Perutnya terasa mual karena memaksakan diri meneguk segelas vodka. Malam ini seharusnya adalah malam miliknya. Malam ini adalah malam Prom Night. Tapi, ia tidak merasakan malam ini adalah malamnya.
Dira adalah seorang Dj terkenal dengan bayaran mahal. Ia bisa memiliki semua yang diinginkannya. Apartemen mewah di kawasan elit, mobil sport keluaran terbaru atau home theater canggih khusus di kamarnya. Ia memiliki semua.
Diumurnya yang masih 18 tahun, tentu itu adalah prestasi yang membanggakan. Masih muda sudah sukses. Semua ini tidak lepas dari kerja keras yang ia lakukan sejak umurnya 16 tahun. Ia begitu tertarik dengan dunia malam. Bergoyang di dance floor hingga fajar menjelang adalah rutinitas yang tak pernah ia lewatkan setiap weekend.
Namun, daddy dan mummy yang tinggal di Manhattan mengeluh dengan gaya hidupnya yang menghambur-hamburkan uang. Sang daddy pun menantang anaknya untuk menghasilkan uang sendiri. Ia tidak mau lagi membiayai acara clubbing Dira.
Kepepet karena tak dapat asupan biaya bulanan untuk kesenangannya, akhirnya Dira mulai belajar menghasilkan uang dengan hobby clubbingnya. Jutaan rupiah ia habiskan untuk menuntut ilmu guna menjadi seorang Dj yang handal. Dan inilah hasil jerih payahnya selama 2 tahun belakangan.
Terlalu sibuk dengan profesinya yang baru, Dira tidak tertarik dengan pemuda mana pun yang berusaha mendekatinya. Masa-masa SMAnya pun tidak begitu ia perhatikan.
Dira memang salah satu siswi cerdas di sekolahnya. Tapi, ia tidak pernah mencoba menggunakan kecerdasannya untuk mendongkrak popularitasnya di sekolah. Kawan-kawan di sekolah mengenal Dira sebagai siswi berprestasi yang kerjaannya nge-Dj di club-club terkenal. Entah di dalam negeri atau di luar negeri.
Dira pun tak mau ambil pusing. Sebentar lagi masa-masanya di SMA akan segera selesai. UN sudah ia lalui. Kini hanya tinggal mengikuti ujian praktek dan ujian akhir sekolah.
Ketika guru mata pelajaran bersangkutan menyuruh murid-muridnya membentuk sebuah kelompok, Dira baru menyadari kalau dia tidak memiliki seorang ‘teman’ dalam arti teman sesungguhnya di sekolah.
“Dir, mau gabung nggak sama kelompok kita? Kita masih kurang satu orang lagi.”
Orang yang nggak pernah dia anggap keberadaannya di kelas tiba-tiba mengajak bicara dirinya. Ia sempat bertanya-tanya dalam hati. “Oh, dia classmate gue ya?”
Dira hanya mengangguk. Lalu berpindah tempat duduk dengan kelompok barunya. Terdiri dari 4 orang termasuk dirinya. Sang ketua yang tadi mengajak dirinya bergabung baru ia ketahui bernama Fauzi. Seorang cowok berambut keriting dengan kaca mata tebal bernama Lilo. Ya, seperti nama salah satu alien di sebuah film kartun. Dan seorang cewek dengan postur tubuh tinggi namun suaranya sangat kecil bernama Jiya.
Dira mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Melihat kelompok-kelompok lain yang mulai akrab. Setelah 5 menit, barulah ia sadari kalau kelompoknya adalah kelompok teraneh. Fauzi yang pendiam, Lilo yang matanya tak pernah lepas dari notebooknya, Jiya yang selalu tertunduk entah menatap apa di lantai, dan dirinya, entah dijabarkan sebagai mahluk yang seperti apa.
Mrs. Mila menjelaskan tugas pertama mereka sebagai kelompok, membuat sebuah film untuk pelajaran sosial.
“Film yang harus kalian buat adalah film dokumenter. Film tersebut harus memiliki nilai agama, sosial budaya dan kebajikan.”
TOEEENGGGG.
Dira melirik Fauzi yang mencatat sesuatu di bukunya. Tulisan cowok itu sangat rapi. Tulisannya saja kalah. Selama Mrs. Mila menjelaskan secara mendetail tentang tugas mereka, tak ada satu pun dari kawan-kawan sekelompoknya yang bertanya atau berusaha membuka obrolan.
“Damn, gue nggak bergabung dengan manusia-manusia primitifkan.” Umpatnya dalam hati.
Sampai bel berbunyi, tak ada satu pun dari mereka yang melakukan, katakanlah interaksi.
“Jadi, kita mau bikin film apa?” Tanya Jiya dengan suara yang sangat kecil. Ini lebih tepat disebut berbisik daripada berbicara.
“Gimana kalau kehidupan hacker di dunia maya?” Usul Lilo.
“Apa unsur agama yang bisa diambil dari itu?” Ganti Fauzi yangbertanya.
Oke, mereka mulai bertingkah laku seperti layaknya manusia yang butuh interaksi dan komunikasi.
“Kalau soal politikus bagaimana?” Ucap Jiya. Ia menatap Fauzi sekilas lalu menundukkan wajahnya lagi.
“Kita mau meliput siapa …”
“Bikin film soal gue aja.” Dira memotong dialog Fauzi. “Sorry, Zi. Gue nggak maksud motong. Cuma lo tau kan reputasi gue di sekolah sebagai ya .. Tahulah. Nah, itu sisi gelapnya. Lo tinggal masukkin aja sisi terangnya.”
Yang lain terdiam. Lilo dan Jiya menatap Fauzi bergantian. Begitu pun dengan Dira.
“Kamu nggak keberatan?”
“Nggak kok. Gue udah biasa.”
“Hm, ya udah kita tinggal bagi tugas aja. Lilo ….”
“Malam ini gue ada jam di club. Gue nanti minta rekamin keadaan di club. Nah, besok pagi gue kasih mentahnya, tinggal lo tambahin sama sisi terangnya. Ops, sorry, gue motong lagi.”
“Iya, nggak apa-apa. Oke kalau begitu.”
“Nih hasil rekaman semalem.”
Dira menyerahkan sebuah vcd kepada Fauzi. Fauzi memberikannya pada Lilo untuk dilihat bersama di notebooknya. Maka, 15 menit kemudian Fauzi, Lilo dan Jiya sudah larut pada rekaman yang sedang di putar oleh Lilo.
“Rekamannya bagus.” Jiya memberikan komentar.
Dira hanya memberikan seutas senyuman.
“Dir, gue minta lagu remix yang lo mainin itu dong.”
“Iya, besok gue bawain.”
“Kita pake aja sekalian buat soundtracknya.”
“Wah, boleh juga tuh, Zi. Berarti kita tinggal merekam sisi terangnya.” Lilo menaikkan kaca mata tebalnya yang tampak merosot karena agak kebesaran.
“Aku udah ada kok. Tinggal kita satuin aja. Terus dikasih narasi.” Fauzi menyerahkan sebuah vcd.
“Ya, udah bagus nih.”
“Ya, udah. Tinggal disatuin aja.” Ucap Dira.
“Gue nggak bisa.” Lilo nyengir.
Fauzi pun mengaku tidak bisa. Apalagi Jiya. Alasannya karena mereka tidak memiliki aplikasi untuk meremix sebuah beberapa video menjadi film.
“Gimana kalau kita ke studio aja!” Jiya berusaha memberikan saran.
“Nggak usah. Gue punya aplikasi sama alat-alatnya. Balik sekolah lo pada ikut ke apartemen gue aja. Kita kerjain sampe selesai.”
Semuanya pun setuju. Pulang sekolah mereka akan merampungkan film itu bersama-sama. Dan ini adalah kali pertama bagi Dira untuk mengerjakan tugas kelompok bersama-sama.
“Lo tinggal disini sendirian, Dir?” Tanya Lilo.
“Iya.”
Jiya dengan polosnya mengajukan pertanyaan. “Nggak takut?”
“Nggak.”
“Wah, hebat.” Puji Jiya. “Aku aja takut tidur sendirian di kamar.”
Dira mengerutkan keningnya. Walau dalam hatinya ada perasaan senang yang tidak ia mengerti. Ia adalah tipikal manusia yang tidak mau privacynya diusik. Tapi, kali ini ia membiarkan Jiya merapihkan kasurnya yang berantakan dengan baju disana-disini. Lilo yang asyik meremix musik dan potongan rekaman menjadi sebuah film di ruang kerjanya. Sedangkan Fauzi. Entah ada dimana cowok yang satu itu.
“Fauzi dimana, Jiy?”
“Oh, dia katanya mau masak sesuatu buat kita. Masakannya enak lho, Dir. Kamu mesti coba pokoknya!”
Dira melangkahkan kakinya ke dapur. Dari kejauhan dia melihat seorang Fauzi dengan celemek masak Winnie The Poohnya sedang memotong-motong sayuran. Sedangkan diatas kompor ada wajan dengan sesuatu yang menyebarkan aroma harum.
“Kamu bisa masak?”
Fauzi tersenyum. Ia memberikan sesendok masakan yang sedang ia masak untuk dicicipi oleh Dira.
“Enak.”
“Ayahku punya usaha café kecil-kecilan di kawasan Dago. Jadi, ya sedikit-dikit aku bisa.”
“Nyokap bokap gue di Manhattan. Kakak cowok gue masih kuliah hukum di Harvard. Dan gue sendiri disini.” Dira mengambil pisau dan membantu Fauzi untuk memotong sayuran.
“Kamu mandiri ya. Salutlah.”
“Hahaha. Tapi, gue kesepian.”
Fauzi menatap Dira dalam. “Kamu punya kita kok. Jadi, kamu nggak perlu merasa kesepian.”
Tiba-tiba jantung Dira berdegup. Seperti ada getaran yang mengagetkan hatinya. Baru ia sadari mata Fauzi bulat, dan mata kanan agak kebiruan, mata kirinya agak kehijauan.
“Lo pake softlense ya?”
“Hah. Nggak kok.”
“Kok warna mata lo beda-beda sih.”
“Oh, itu bawain lahir. Aku juga nggak ngerti. Haha.”
“Guys, UDAH JADI!!!”
Lilo berteriak dan semua orang yang ada di apartemen itu langsung berkumpul di ruang tengah. Lilo menyetel film yang sudah ia remix.
Film itu pun di putar. Mereka hanyut dalam alunan musik dan potongan-potongan kisah yang saling menyatu satu sama lain.
“Kita pamit ya, Dir.” Jiya memeluk Dira.
“Ya, ati-ati. Udah malem. Atau mau gue panggilin taksi?”
“Nggak usah. Kita searah kok. Jadi, kita naik angkot yang sama.” Jawab Fauzi.
“Lo mau naik angkot malem-malem begini? Nggak. Tunggu sebentar.” Dira masuk ke dalam. Ia meraih jaketnya dah kunci mobil sportnya. “Ayo, gue anterin.”
“Tapi, Dir. Mobil lo kan cuma ada 2 tempat duduknya.”
“Oh iya. Sebentar!” Dira masuk ke dalam lagi. Ia mengambil kunci yang lain. “Ayo!”
Setengah jam yang lalu mobilnya ramai dengan celotehan Lilo dan Jiya. Kadang-kadang Fauzi ikutan nimbrung. Tapi, nggak jelas dan jayus banget.
Kini di dalam mobilnya yang melaju di tengah keramaian malam hanya ada dirinya. Sendirian ditemani suara radio. Terasa sepi. Ada kesedihan yang muncul di benaknya. Untuk pertama kali ia merasa kalau kesepian yang ia rasakan selama ini adalah nyata.
Dira meletakkan jaketnya di sofa. Ia nyalakan televisi. Ah, acaranya membosankan. Matanya menatap sekelilingnya. Lengang. Sepi. Tidak seperti siang tadi.
“Tuhan, aku butuh teman.”
Malam yang lain ditengah musik, asap rokok dan bau alkohol yang merebak di seluruh penjuru. Dira menikmati permainannya di meja Dj.
Drreett. Drettt.
“Halo. Dira?”
“Ya, siapa nih?”
“Fauzi. Kamu ada dimana kok berisik banget sih?”
“Halo!! Apaan?? Gue nggak bisa denger lo!!”
Dira menyepi ke ruang bartender. Setelah ia rasa suasananya cukup tenang, ia kembali menyapa seseorang yang tadi ia ajak bicara di handphone.
“Halo, Zi?”
“Dir, Jiya kabur dari rumah.” Suara disana tampak panik.
“HAH!! Kok bisa?”
“Nanti aja ceritanya. Aku sama Lilo lagi nyariin dia. Kamu bantuin juga ya!”
“Iya. Iya.”
Dira segera meninggalkan club. Beberapa menit kemudian ia telah melaju di jalanan yang lengang pada jam 2 pagi. Ia bingung harus mencari Jiya dimana. Akhirnya dia hanya melaju kemana hatinya membawa.
Hujan mulai turun. Sekarang memang sedang musim hujan. Dira memperlambat laju mobilnya. Cukup pelan. Ia perhatikan setiap sisi jalan. Sekelebat bayangan tentang Jiya yang tak bisa apa-apa jika saja ada yang menggodanya membuat Dira merinding sendiri. Hatinya jadi tak karuan. Jiya yang lembut dan memiliki suara kecil itu, kenapa bisa jadi senekat ini.
Ditengah derasnya hujan, samar-samar Dira melihat seseorang yang berdiri dibawah lampu jalan. Dia masih mengenakan seragam SMA dan tas berbentuk buah apel hijau. Itu tas Jiya!! Dira segera menepikan mobilnya dan meraih payung yang ada di dashboard.
“JIYA!!!” Panggil Dira. Ia setengah berlari menghampiri Jiya. Gadis itu menggigil karena kedinginan.
“Dira?” Jiya tampak kaget dengan kehadiran Dira. Apalagi dengan penampilan Dira. Seksi dengan rambut yang agak berwarna merah. Ia tak pernah melihat Dira yang seperti ini.
“Lo nekat banget siy, Jiy.”
Mereka berdua melaju ke apartemen Dira. Dira pun sudah mengabarkan kepada Lilo dan Fauzi kalau ia sudah menemukan Jiya.
“Ngapain lo kabur dari rumah?” Tanya Dira seraya menyerahkan segelas susu cokelat panas.
“Bunda dan Ayah mau bercerai. Jiya kecewa sama mereka.”
“Tapi jangan begini caranya dong! Lo tau kan di jalanan jam segini itu banyak orang yang nggak bener. Kalau mau kabur kenapa nggak ke rumah gue aja? Kan lebih aman!!”
“Jiya tadi cuma pengen sendiri, Dir. Nggak kebayang aja, kok bisa ya ini terjadi sama hidup Jiya. Jiya penat, Dir. Pengennya lari. Menjauh dari orang-orang.”
Dira terdiam. Ya, terkadang ia juga merasa seperti itu. Ingin sendiri. Penat. Bosan. Namun, terlalu larut dalam kesendirian juga tidak enak. Kesepian.
“Dira tadi dari mana?”
“Eh. Oh. Abis nge-Dj.”
“Oh ya? Kayak yang di film kita itu?”
Dira mengangguk.
“Hm, kapan-kapan ajakin Jiya dong! Kayaknya asyik ya?”
“Nggak, Jiy!! Jangan!!”
“Lho, kenapa?”
“Jangan! Sekali lo masuk kesana. Lo nggak akan bisa dengan mudah lepas dari jeratannya. Jangan, Jiy. Pokoknya jangan!!”
“Tapi, kok Dira suka?”
“Itu karena.. Karena..” Dira menatap wajah gadis polos disampingnya. “Karena gue kesepian.”
“Kadang Jiya merasa kesepian juga kok. Suara Jiya kecil. Tapi, tubuh Jiya tinggi besar begini. Kayaknya Tuhan nggak adil, ya?”
Tuhan.
Ah, sudah berapa lama Dira tidak menyebut nama itu. Ia seperti begitu jauh dengan Tuhan. Atau Tuhan sudah tidak mau bersahabat lagi dengannya? Tidak, tidak. Tuhan itu Maha Penyayang. Atau. Dia yang tidak mau bersahabat dengan Tuhan?
Ya, Dira selama ini yang menjauhi Tuhan. Ia tidak peduli dengan orang lain. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal Tuhan menyuruh hambaNya untuk saling tolong-menolong. Jadi, selama ini masalahnya adalah bersahabat dengan Tuhan.
“Dir, kok bengong?”
“Eh. Enggak. Hm, Dir, lo percaya sama Tuhan?”
“Kok pertanyaannya begitu sih, Dir?”
“Tuhan itu Maha Adil, Jiy. Cuma kita yang nggak tau terima kasih dengan keadilan yang udah diberikan Tuhan. Karena kita terlalu angkuh untuk mengakuinya, dan terlalu rakus untuk merasa cukup.”
“Dir!!’
Dira berbalik menatap 3 orang yang memanggil namanya. Tiga orang yang selama 4 bulan ini memberikannya sebuah kisah yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.
“Gue udah mutusin, guys. Gue akan kuliah di Amerika.”
“Lo yakin, Dir?”
“Gue yakin, Lo. Cuma itu satu-satunya cara buat gue untuk memulai semuanya dari awal lagi. Meninggalkan kehidupan malam yang selama ini gue jalanin. Gue buruh Mommy di sisi gue.”
“Kalau itu yang terbaik buat kamu. Kita semua pasti dukung kamu kok.”
“Iya, Dir. Bener kata Fauzi, kita pasti bakal dukung kamu. Kamu jangan lupa sama kita ya, Dir. Sama Jiya, Fauzi dan Lilo.”
“Enggak. Gue nggak akan lupa sama lo semua. Lo yang memberikan gue arti kebersamaan ini. Lo yang nyadarin gue dengan semua yang udah gue lakuin. Thanks a lot ya friends.”
Malam itu akan menjadi malam yang penting di kehidupan mereka. Yang akan mereka ingat sepanjang masa. Yang aan menjadi pemersatu mereka di masa depan kelak.
“Fauzi sama Dira mana sih? Udah jam berapa nie?” Lilo mengerutu tapi matanya tak pernah beranjak dari notebooknya.
“Sabar Lilo. Mereka lagi pada di jalan.”
“Tapi gue ada janji sama seseorang 4 jam lagi. Dia yang bakal beli program gue. Kalau mereka telat, berarti kita Cuma punya waktu dikit buat ngobrol.”
“Ya ampun Lilo, Jiya aja ngebatalin semua pesanan gaun pengantin dan baju yang seharusnya selesai hari ini. Kok kamu malah ada janji sama orang lain sih.”
“Sorry, guys kita telat!!!” Fauzi dan Dira datang bersamaan dari arah yang berbeda.
“Gimana sih elo pada, masa arsitek terkenal sama presdir majalah fashion internasional datengnya telat?”
Sedetik kemudian mereka nyerocos ngalor ngidul menceritakan ini dan itu. Ya, mereka tetaplah mereka. Tetap sama seperti mereka 7 tahun yang lalu.
Tetap ada Dira. Tetap ada Jiya. Tetap ada Lilo. Tetap ada Fauzi.
TAMAT
Selasa, 11 Mei 2010
Di balik Diri Wanita
- Di balik sisi lembut wanita, kalian juga harus sadar pasti ada sisi kerasnya. biasanya sisi keras wanita adalah hati. jadi kalian harus dapat mengerti bahwa wanita tidak seluruhnya lembut. jadi jangan kaget kalo ada wanita yang lembut bicara dan tindakannya namu kuat memegang prinsip dan mungkin keras kepala.
- Dibalik kecantikan dan kesempurnaan tubuh wanita pasti ada bagian tubuh yang mungkin bagi mereka jelak dan tidak mau mereka perlihatkan. jadi kalian gak boleh kaget kalo misalnya ada artis yang slalu pakai rok mini tapi slalu pakai baju lengan panjang.
- Dibalik senyumannya mereka slalu punya maksud tersendiri. senyum wanita emang gak bisa di bedain artinya. mana senyum ramah, sayang, atau sinis. jadi jangan GR dulu kalo kalian baru disenyumin satu kali ma cw. sapa tau itu senyum sinis. wkwkwkwk
- ini nih yang kadang orang banyak yang tertipu. dibalik jilbab wanita(ada rambut, ya iyalah nenek - nenek ompong juga tau) . kalian jangan langsung percaya kalo wanita berjilbab itu baik. kalian harus liat juga dari sifat, cara berbicara, dan pergaulan mereka.
- Di balik wajah judes mereka ternyata mungkin tersimpan kelembutan yang teramat. kalian jangan karena liat muka cw yang judes terus kabur. sekali lagi liat dulu sifat dan cara bicara mereka. gw sering ngeliat noh cw judes tapi ternyata baik bgt sifatnya.
maksudnya sifatnya.wkwkwkwkwk
Jogja, 1 - 4 Januari 2009
Tanggal itu adalah kenangan terindah gw yang gw alamin bareng keluarga tercinta gw. kita liburan bareng - bareng ke rumah mbah gw (bukan dukun) di kebumen terus cabut hang out ke jogja. seru abis. Gw nerasa deket banget ma keluarga gw waktu 4 hari itu. apalagi karena selama seharian itu di dalem mobil terus, kita sering sharing dam jadi tau sisi lain dari masing - masing anggota keluarga gw yang gw belum tau.
gak keitung deh bugdet yang keluar berapa. yang jelas mau di gaplokin pake duit milyaran juga, kehangatan keluarga ge gak bakal bisa tergantikan.
My mom, My dad, My brother, and my sister....
i love u all